Materi 6 - Pencak Silat

PENCAK SILAT: Pengertian, Sejarah, Teknik Dasar, Jurus dan Peraturan


A. Pengertian Pencak Silat



pencak silat memiliki arti dari dua kata yang menyusunnya. Pencak berarti gerakan daar bela diri yang memiliki peraturan. Sedangkan silat memili arti gerakan bela diri yang paripurna dan bersumber dari rohani.

Versi kedua, menurut Thomas A. Green dalam bukunya yang berjudul Martual Arts of the World : An Encyclopedia of History and Innovation, pencak silat sering digunakan di Pulau Jawa bagian tengah dan timur. Sementara kata silat digunakan di Sumatera, Semenanjung Malaya, dan Kalimantan.

Seiring perkembangannya, bentuk definisi baru untuk olahraga ini. Masih menurut Green, pencak digunakan untuk mengunggulkan unsur seni dan keindahan gerakan. Dan silat merupakan inti ajaran bela diri dalam sebuah pertarungan.

Pencak silat merupakan olahraga beladiri asli Indonesia yang harus dilestarikan. Untuk itu mari kita mempelajarinya dengan baik dan benar. Karena banyak sekali unsur-unsur nilai luhur di dalamnya yang wajib diketahui dan dilaksanakan oleh generasi kita maupun generasi yang akan datang. Aspek tersebut adalah (1) Aspek Mental Spiritual : pencak silat membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia seseorang. (2) Aspek Seni Budaya : istilah pencak pada umumnya menggambarkan bentuk seni tarian pencak silat, dengan musik dan busana tradisional. (3) Aspek Beladiri : istilah silat, cenderung menekakan pada aspek kemampuan teknis beladiri pencak silat. (4) Aspek Olahraga : ini berarti bahwa aspek fisik dalam pencak silat ialah penting. Aspek olahraga meliputi pertandingan dan demonstrasi bentuk-bentuk jurus, baik untuk tunggal, ganda atau regu.

Pencak silat merupakan beladiri yang memiliki sistem sikap dan gerak terencana, terorganisir, terarah, terkoordinasi dan terkendali. 

Ciri-ciri umum pencak silat, sebagai berikut:

  1. Mempergunakan seluruh bagian tubuh.
  2. Anggota badan sebagai alat penyerangan dan pembelaan diri.
  3. Dilakukan dengan atau tanpa alat (senjata).
  4. Tidak memerlukan senjata tertentu.
  5. Benda apapun dapat dijadikan sebagai senjata.
Ciri-ciri khusus pencak silat, sebagai berikut:
  1. Bersikap tenang, lemas, dan waspada.
  2. Tidak hanya mengandalkan tenaga atau kekuatan.
  3. Melainkan menggunakan kelentukan, kelincahan, kecepatan, dan ketepatan.
  4. Memperhatikan posisi dan perubahan pemindahan berat badan, dan
  5. Memanfatkan serangan/tenaga lawan, sehingga mengeluarkan tenaga seefisien mungkin.
Pencak silat juga sering diartikan sebagai salah satau cara beladiri dengan menggunakan akal secara penuh. Mengapa disebut demikian? Karena akal manusia jauh lebih sempurna dibanding makhluk lainnya. Sehingga kemampuan akal tersebut, maka sangat memungkinkan jika manusia mampu mengusasi bebagai jenis ilmu yang ada di dunia.

Pengertian menurut para ahli:
  • secara epistimologi pencak silat berasal dari dua kata yaitu pencak silat. Pencak merupakan gerak dasar beladiri dan terkait dengan peraturan, sedangkan silat merupakan gerak beladiri sempurna yang bersumber dari kerohanian.
  • Adapun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pencak silat adalah permainan atau keahlian menangkis, menyerang, serta membela diri menggunakan ataupun tanpa senjata.
  • Sementara itu Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) mengartikan seni beladiri ini sebagai hasil budaya manusia di Indonesia untuk membela, lalu mempertahankan eksistensi (kemandiriannya), serta integritasnya (manunggal) untuk lingkungan hidup sekitarnya guna mencapai keselarasan hidup dalam meningkatkan iman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa (TYME)
  • Menurut Abdus Sjukur, Pencak merupakan gerakan langkah keindahan dengan menghindar yang disertakan gerakan berunsur komedi. Pencak dapat dipertontonkan sebagai sarana hiburan. Silat merupakan unsur teknik bela diri menangkis, menterag dan yang tidak dapat diperagakan di depan umum.
  • Menurut pendapat Soetardjonegoro, Pencak merupakan gerakan bela diri serang yang teratur menurut sistem, waktu, tempat dan iklim dengan selalu menjaga kehormatan masing-masing secara kesatria, tidak melukai perasaan. Silat merupakan gerak bela srang yang erat hubungannya dengan rohani, sehingga mengidup suburkan naluri, menggerakan hati nurani manusia, langsung menyerang kepada Tuhan Yang Maha Esa.

B. Sejarah Pencak Silat

Pencak silat adalah sebuh seni bela diri asli nusantara. Senin bela diri tradisional yang satu ini memiliki pamor yang begitu luas, baik secara nasional hingga kancah internasional. Pecak silat diketahui menjadi salah satu bela diri yang cukup populer di beberapa negara, misalnya seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura, Filipina selatan, dan juga Thailand selatan sesuai dengan penyebarab suku bangsa Nusantara di masa lalu.

Pencak silat sendiri awalnya terinspirasi dari sebuh ketrampilan suku asli tanah air pada saat berburu dan berperang. Para suku asli tanah air dahulu menciptakan banyak gerakan yang secara langsung terinspirasi dari gerakan para binatang untuk dapat bertahan hidup di hutan. Namun, perkembangan pencak silat melahirkan banyak variasi gerakan, mulai seperti pukulan, tendangan, bahkan juga kuncian.

Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia atau disingkat IPSI yang didirikan pada tanggal 18 Mei 1948. IPSI bisa dikatakan juga sebagai salah satu organisai silat tertua di dunia.

Sementara itu, organisasi yang menjadi wadah dari berbagai federasi pencak silat di seluruh belahan dunia biasa disebut Persekutuan Pencak Silat Antara bangsa (Pesilat), yang dibentuk pada tanggal 11 MAret 1980 oleh para negera pendiri, seperti Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunai Darussalam.

Seni bela diri pada dasarnya hadir berkat pengaruh budaya Tionghoa, Hindu, Buddha, hingga Islam. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki aliran pencak silat yang khas. Misalnya seperti, daerah Jawa Barat yang memiliki pencak silat aliran Cimande dan Cikalong, Jawa Tengah dengan aliran Merpati Putihnya, hingga Jawa Timur yang terkenal dengan aliran PSHT dan Perisai Diri.

Para ahli sejarab pencak silat Indonesia memperkirakan bahwa bela diri sudah ada sejak abad ke-7 Masehi. Sejarah pencak silat pada awalnya berkembang dari kemampuan suku asli Indonesia dalam berburu dan perang yang biasa menggunakan alat perang seperti paranng, perisai, dan tombak. 

Penemuan tersebut pun sesuai dengan sebuah artefak senjata dari zaman Hindu Buddha yang dipenuhi dengan pahatan dan relief bergambar kuda-kuda, sebagai gerakan dasar pencak silat yang juga terdapat di Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Kemudian, pada sekitar abad ke 14, pencak silt mulai berkembang dengan sangat pesat hingga mencapai seluruh nusantara. Seni bela diri ini dibawa dijadikan sebagai bahan latihan di spiritual di berbagai pesantren oleh para penyebaran ajaran islam. Tidak hanya itu, pencak silat mendapat pengakuan sebagai beladiri yang telah menjadi para penduduk berani berperang melawan para penjajah.

Ada banyak tokoh yang ikut dalam proses pengembangan dan mewarnai pencak silat di era masa lalu. Beberapa tokoh tersebut, yaitu: Panembahan Senopati. Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Teungku Chik di Tirto, Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, hingga para pendekar dari kaum perempuan seperti, Sabai Nan Aluih, Cut Nyak Dhien, dan Cut Nyak Meutia.

C. Aliran Pencak Silat

Seiring berjalannya waktu, seni bela diri pencak silat di Indonesia mengalami banyak perkembangan. Hal ini bisa kita lihat dari banyak sekali aliran dalam pencak silat, mulai dari yang tertua hingga yang baru dibentuk. Dengan semakin banyaknya aliran pencak silat menjadi salag satu tanda kekayaan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia.

Nah, berikut ini adalah beberapa aliran seni bela diri pencak silat yang ada di Indonesia, antara lain yaitu:

1. Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT)

PSHT sendiri telah ada di Indonesia pada saat masa Indonesia belum merdeka. Hanya saja, secara resmi aliran pencak silat ini baru berdiri pada tahun 1903 oleh Ki Ngabehi Soeromihardjo atau yang lebih dikenal sebagai eyang berubah nama menjadi Persaudaraan Setia hati.

Nama Setia Hati sendiri dapat dimaknai sebagai kesatuan tunggal yang ada dalam hati dan pikiran manusia, tentunya bagi manusia yang memiliki orientasi kepada Tuhan. Sementara, makna teratai atau yang perwujudan nyata dari bunga teratai bisa diartikan sebagai sebuah jenis dari keindahan dan keagungan bunga yang hidup dalam situasi dan kondisi apapaun.

PSHT mengombinasikan antara seni bela diri dengan ajaran spiritua seperti ilmu kebatinan atau spiritualitas.

2. Pencak Sila Pagar Nusa

Pagar nusa sendiri sudah sejak dahulu ada dilingkungan pesantren Nahdlatul Ulama (NU). Selain Pagar Nusa, sebenarnya terdapat banyak aliran silat di kalangan NU sendiri. Sementara itu nama Pagar Nusa diketahui merupakan singkatan dari Pagar NU dan Bangsa.

Berkat keberagaman tersebut pada akhirnya menbuat PAgar Nuda menjadi wadah perkumpulan pencak silat dibawah NU tepat pada tahun 1986. Beberapa ragam dari pencak silat Pagar Nusa, yaitu PAgar Nusa Gasmi, Pagar Nusa Bantara Perkasa, Pagar Nusa Satria Perkasa Sejati atau Seperti, dan lain sebagainya.

3. Pencak Sila Perisai Diri

Dibentuk pada 2 Juli 1955 di Surabaya, Jawa Timur, Perisai Diri merupakan salah satu aliran pencak silat tertua di Indonesia yang didirikan oleh RM Soebandiman Dirdjoatmodjo, putra bangsawan Keraton Paku Alam. Sebelumnya RM Soebandiman Dirdjoatmodjo sendiri melatih silat di lingkungan Perguruan Taman Siswa. Beliau secara langsung diminta oleh pamannya, Ki Hajar dewantara untuk mengajarkan ilmu bela diri kepada para siswa Taman Siswa.

Perisai Diri memiliki beberapa teknik yang mengundang sekitar 156 aliran silat dari berbagai daerah di Indonesia. Berbagai aliran pencak silat tersebut juga dikombinasikan dengan sebuah aliran dari China yang sebelumnya sudah dipelajari oleh dirinya sendiri, yaitu aliran Shaolin atau dikenal juga Siauw Liem.

Para anggota Perisai Diri diajarkan teknik bela diri yang efektif dan efisien, mulai dari maksimalkan tangan kosong maupun penggunaan pada senjata. Dengan motto "Pandai Silat Tanpa Cedera", Perisai Diri dikenal sebagai aliran pencak silat yang memiliki metode praktis yaitu latihan serang dan hindar.

4. Pencak Sila Merpati Putih

Merpati putih sendiri dikenal sebagai aliran pencak silat yang dilakukan dengan tanpa senjata san alat atau bisa disebut tangan kosong. Merpati putih pada awalnya diajarkan secara khusus untuk Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di setiap Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Hanya saja, aliran pencak silat ini lambat laun mengalami perkembangan dan semakin banyak dipelajari oleh masyarakat Indonesia.

Merpati putih sebenarnya merupakan singkatan dari istilah "Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising Hening". Apabila diartikan ke dalam bahasa Indonesia maka dapat diartikan menjadi "mencari sampai mendapatkan kebenaran dengan ketenangan". Dengan semboyan tersebut, setiap anggota Merpati Putih diharapjan dapat menyelaraskan hati dan pikiran dalam segala tindakannya di kehidupan sehari-hari. Selain semboyan tersebut, Merpati Putih juga memiliki motto yang berbunyi "Sumbangsihku tak berharga, namun keikhlasanku nyata".

5. Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Pencak silat Tapak Suci pada dasarnya merupakan seni bela diri yang dibentuk secara khusus sebagai bagian dari organisasi masyarakat Islam Muhamadiyah. Sebagai salah satu organisasi otonon Persyarikatan Muhamadiyah. Aliran ini berlandaskan kuat pada kaidah Islam agar senantiasa dapat mengajarkan tuntunan ajaran Islam, yakni dengan mngindahkan hukum-hukumnya dan melaksanakan ibadahnya.

Maka dari itu, Tapak Suci mengharuskan seluruh anggota atau kadernya yang memiliki niat untuk belajar bela diri sunggu-sunggu harus beragama Islam, dan secara otomatis dan harus bersedia menjadi anggota dari Muhammadiyah. Dua syarat tersebut tentu saja sesuai dengan tujuan Tapak Suci itu sendiri.

Tujuannya adalah menciptakan proses belajar ilmu pencak silat yang bersih dari ilmu kesesatan atau syirik. Bersamaan dengan mengenal sekaligus menghafal gerakan atau jurus dari Tapak Suci, setiap kader juga dilakukan pembinaan mengenai penguatan kaidah akhlak atau moralitas dalam pergaulan, ketahanan mental, dan tentu saja kepemimpinan.

6. Pencak Silat Cimande

Pencak silat Cimande berasal dari daerah Jawa Barat. Pencak silat CImande merupakan sebuah seni bela diri yang berkembang dari Kampung Cimande, Caringin, Kabupaten Bogor. Salah satu tokojh terkenal yang mengembangkan aliran pencak silat sejak dulu adalah Abah Khaer.

Seni beladiri ini terkenal sebagai aliran pencak silat yang menjunjung tinggi nilai-nilai, norma-norma dan perilaku yang diwariskan oleh leluhur CImande. Keluarga besar pencak silat Cimande terdapat Taleq atau kode etik pencak silat Cimande, yaitu: harus taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak boleh melawan kepada ibuk dan bapak serta orang yang sudah tua, tidak boleh melawan guru dan ratu atau pemerintah, dan lain sebagainya.

D. Tujuan Pencak Silat

Berikut ini terdapat beberapa tujuan dari pencak silat, yaitu sebagai berikut:

  1. Sebagai tempat bagi generasi yang memiliki hobi olahraga khususnya beladiri untuk menyalurkan bakat dan minatnya.
  2. Membentuk masyarakat "Berjiwa Sehat, Berfikir Cerdas, Berprestasi".
  3. Membentuk dan mendidik kader-kader bangsa agar memiliki sikap ksatria, berani membela kebenaran dan keadilan, disiplin yang tinggi serta bertanggung jawab lahir dan batin.
  4. Mendorong dan menggerakkan masyarakat agar lebih memahami dan menghayati langsung hakikat dan manfaat olahraga Pencak Silat sebagai kebutuhan hidup.
  5. Mendidik generasi muda agar tidak terjerumus pergaulan bebas, pengguna obat terlarang.
Lima tujuan yang perlu kita ketahui dari proses belajar dan melestarikan pencak silat di Indonesia. Beberapa tujuan tersebut, antara lain sebagai berikut:

  1. Mengembangkan pendidikan mental dan spiritual
  2. Mengembangkan Aspek Bela diri
  3. Mengembangkan aspek seni
  4. Pengembangan olahraga
  5. Pengembangan pendidikan

E. Fungsi Pencak Silat

Berikut ini terdaoat 3 fungsi pencak silat yaitu:

1. Fungsi pencak silat untuk seni

            Pencak silat ditinjau dari sudut seni harus mempunyai keselarasan dan kesimbangan antara wirama, wirasa, dan wiraga, atau keserasian irama, penyajian teknik, dan penghayatan. Pada seni pencak silat penekanan dan dominasi dapat diletakkan pada:

  • Gerak bela diri yang diperhalus dan diperindah.
  • Gerak tari yang mengambil motif-motif bela diri pencak silat.
  • Gerak tari yang diwarnai gerak pencak silat sekadarnya sebagai situasi saja; dan
  • Gerak perpaduan yang seimbang dan selaras antara tari dan bela diri.

2. Fungsi pencak silat untuk bela diri

    Fungsi ini sesuai dengan ciri-ciri umum pencak silat Indonesia, antara lain:

  • Pencak silat mempergunakan seluruh bagian anggota tubuh dari ujung jari tangan, kaki sampai kepala.
  • Pencak silat dapat dilakukan dengan tangan kosong dan dengan senjata.
  • Pencak silat tidak memerlukan senjata tertentu. Benda apapun dapat dijadikan senjata (saputangan, tas, payung, ikat pinggang, dan sebagainya).

3. Fungsi pencak silat untuk pendidikan

            Hasil akhir dari pengajaran olahraga pencak silat adalah kemampuan, ketrampilan, dan kemantapan dalam mempertahankan dan membela diri terhadap ancaman bahaya dari dalam maupun lur, serta untuk menjamin keselarasan dengan alam sekitarnya.

F. Teknik Pencak Silat

- T

- Teknik Dasar Serangan

Serangan dapat dibagi berdasarkan alat yang digunakan untuk melakukan serangan, antara lain serangan lengan/tangan yang lazim disebut pukulan dan serangan tungkai/kaki yang lazim disebut tendangan. Terdapat pula teknik serangan dengan menggunakan bagian dari lengan tau tungkai, yaitu: sikuan, lututuan, sapuan, kaitan, dan sebagainya.

Setiap serangan memiliki unsur-unsur sebagai berikut: (1) Sikap tangan/kaki sebagai alat serangan, dan (2) sikap tubuh.

1. Latihan Teknik Serangan Tangan

a. Sernagan Tangan

1) Serangan tangan arah depan, meliputi:

(a) Tebak, pukulan telapak tangan terbuka menghadap ke depan. Jari-jari rapat dan lurus ke atas. Perkenaan pada telapak tangan. Dapat dilakukan dengan dua tangan secara bersama-sama.

(b) Tinju, sikap tangan menggenggam. Perkenaan pada buku-buku gengaman tangan yang mengepal (pada saat mengenai sasaran genggaman menghadap ke bawah). Arah sasaran ditujukan ke dagu, leher, atau dada lawan.

(c) Sodok, sikap tangan terbuka, telapak tangan menghadap ke atas, jari-jari rapat dan lurus ke depan. Arah sasaran ditunjukan ke dagu lawan.

(d) Bandul, sikap tangan menggenggam. Perkenaan pada punggung tangan yang menggengam. Arah sasaran ditunjukan ke muka, atau dada lawan.

Gambar : Serangan tangan arah depan

2) Serangan tangan arah bawah, meliputi:

(a) Bandul/catok, mula-mula tangan menggenggam berada di depan perut bagian bawah. Ayunkan tangan dengan lintasan dari bawah menuju ke depan atas. Sasaran ditunjukan pada hati atau  dagu lawan. Pada sasat mengenai sasaran genggaman tangan menghadap ke atas.

(b) Sanggah, posisi jari-jari tangan terbuka (agak bengkok ke dalam, tetapi tidak menggengam) dan berada di depan perut bagian bawah. Kemudian ayunkan tangan dengan lintasan dari bawah menuju ke depan atas. Sasaran ditujukan pada ulu hati atau dagu lawan.

(c) Colok/Tusuk, Tangan berada di depan perut dengan jari-jari terbuka. Ayunkan tangan dengan lintasan dari bawah menuju ke depan atas. Sasaran ditujukan pada leher atau kepala lawan. Untuk serangan tusuk telapak tagnan menghadap ke bawah sedangkan untuk serangan colok telapk tangan menghadap ke atas. Pada saat mengenai sasaran jari-jari dalam keadaan rapat dan tegang.

Gambar : Serangan tangan arah bawah

3) Serangan tangan arah atas, meliputi:

(a) Katok, tangan yang menyerang dimulai dari atas kepala, dengan telapak tangan menghadap ke bawah dari jari-jari rapat agak ditekuk. Ayunkan tangan dengan lintasan dari atas atau depan kepala menuju ke depan bawah. Sasaran ditujukan pada dahi, kepala lawan atau dada atas lawan. Pada saat mengenai sasaran jari-jari tangan rapat dan agak ditekuk berta dalam keadaan tegang.

(b) Tumbuk, Tangan menggenggam menghadap ke bawah dan berada di depan atas kepala. Tangan diayun diawali dari atas menuju ke arah depan bawah. Sasaran ditujukan pada kepala, atau dada lawan. Perkenaan tangan yang menyerang adalah pada genggaman tangan bagian dalam.

(c) Pedang, tangan terbuka dengan jari-jari rapat berada di depan salah satu telinga. Tangan diayun diawali dari atas menuju ke arah depan bawah. Sasaran ditujukan ke arah leher samping atau bahu lawan.

Gambar : Serangan tangan arah atas

4) Serangan tangan arah samping, meliputi:

(a) Pedang, tangan terbuka jari-jari rapat dan berada di samping badan, Siku ditekuk sehingga telapak tangan berada lebih tinggi dari siku. Ayunkan tangan ke arah depan mendatar (horizontal), dengan sasaran ke arah badan atau leher bagian samping lawan.

(b) Bandul, tangan menggenggam, berada di samping depan badan. Siku ditekuk sehingga genggaman tangan berada lebih tinggi dari siku. Ayunan tangan diawali dari samping badan ke arah depan mendatar ke samping atau ke arah badan bagian samping atau ke kepala (pipi) lawan.

(c) Kepret, tangan terbuka dan lemas (pergelangan tangan rileks). Siku ditekuk sehingga tangan berada di depan agak ke samping badan pada sisi badan yang lain. Telapak tangan menghadap ke belakang. Ayunkan tangan ke arah depan mendatar dengan cara melecutkan tangan. Sasaran ditujukan ke arah kepala atau dada lawan. Perkenaan tangan pada punggung tangan. 

Gambar : Serangan tangan arah samping

b. Serangan Siku

Pada serangan dengan siku, jarak lawan harus dekat. Serangan dengan menggunakan siku dapat dilakukan dengan arah serangan, antara lain:

1) Arah serangan depan

Cara melakukan sebagai berikut:

a) Posisi awal, berdiri dengan kuda-kuda, yaitu kaki kiri di depan dengan lutut ditekuk dan kaki kanan lurus ke belakang.

b) Untuk melakukan serangan kepada lawan, yaitu siku tangan kiri ditekuk lurus ke depan dan tangan kanan ditekuk di depan dada jari-jari rapat dalam posisi berdiri.

2) Arah serangan serong

Cara melakukannya sebagai berikut:

a) Posisi awal, berdiri serong ke kiri dengan sikap kuda-kuda, yaitu kaki kanan di depan dengan lutut ditekuk dan kaki kiri lurus ke belakang.

b) Untuk melakukan serangan kepada lawan siku kanan ditekuk, kemudian dilemparkan ke arah sasaran dan tangan kiri ditekuk di depan dada. 

3) Arah serangan belakang

Cara melakukannya sebagai berikut:

a) Posisi awal, berdiri dengan kaki kiri di belakang dalam keadaan ditekuk dan kaki kanan di depan dengan lutut agaj ditekuk.

b) Untuk melakukan serangan kepada lawan dengan siku tangan kanan ditekuk lurus ke belakang dan siku tangan kiri ditekuk di depan dada dengan jari-jari rapat dengan telapak tangan berdiri tegak. 

4) Arah serangan bawah

Cara melakukan sebagai berikut:

a) Posisi awal berdiri dengan sikap kuda-kuda, yaitu kaki kiri dengan lutut ditekuk dan kaki kanan lurus ke belakang.

b) Untuk melakukan serangan kepada lawan, tangan kiri ditekuk di depan dada dalam keadaan tegak lurus, kemudian dipukulkan ke bawah, yaitu ke arah sasaran, sedangkan tangan kanan ditekuk di samping badan.

Gambar : Teknik Serangan Siku


2. Latihan Teknik Serangan Kaki

Dalam pencak silat, serangan dapat juga dilakukan dengan menggunakan kaki. Serangan kakai lebih di kenal dengan tendangan. Berikut adalah uraian teknik dasar tendangan yang membutuhkan kekuatan dan kecepatan. Teknik dasar tendangan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu sebagai berikut:

a. Tendangan depan/lurus, yaitu tendangan yang dilakukan ke arah depan dengan sasaran perut. Bagian kaki yang digunakan untuk menendang adalah pangkal jari-jari kaki.

b. Tendangan samping, yaitu tendangan yang dilakukan dengan posisi badan menyamping, bagian kaki yang digunakan untuk menendang adalah bagian sisi telapak kaki.

c. Tendangan busur, merupakan tendangan membentuk lintasan sepeti busur atau sabit. Bagian kaki yang digunakan untuk menendang adalah pungugung kaki.

d. Tendangan belakang, yaitu tendangan yang dilakakukan pada sasaran yang berada di belakang tubuh. Bagian kaki yang digunakan untuk menendang adalah tumit.

Gambar : 1) Tendangan lurus/depan, 2) Tendangan samping 3) Tendangan busur, 4) Tendangan belakang
Sumber: PENJAS MAN 1 KAB.SOLOK: PENCAK SILAT (mriben.blogspot.com)

e. Tendangan celorong, hampir sama dengan tendangan T, tetapi dilakukan sambil merebahkan badan. Sasarannya, yaitu lutut dan kemaluan.

f. Tendangan kepret, dilakukan ke arah depan dan samping dengan kenaan punggung kaki. Sasaran dari tendangan kepret, yaitu kemaluan.

g. Tendangan kuda, dilakukan dengan menggunakan dua kaki dalam posisi menutup atau membuka. Lintasannya lurus ke belakang dengan sasaran seluruh bagian tubuh.

h. Tendangan taji, dilakukan menggunakan sebelah kaki dan tungkai dengan kenaan tumit. Lintasannya ke arah belakang dengan sasaran kemaluan.

i. Hentak bawah, merupakan serangan yang menggunakan telapak kaki menghadap keluar. Serangan kaki ini dilaksanakan dengan posisi badan direbahkan dan bertujuan untuk mematahkan persendian kaki.

j. Sapuan, adalah serangan manyapu kaki dengan lintasan dari luar ke dalam dan bertujuan menjatuhkan lawan. Ada dua jenis sapuan, yaitu sapuan tegak dan sapuan rebah. Sapuan tegak mengarah ke mata kaki, sedangkan sapuan rebah mengarah ke betis bawah.

k. Sabetan, merupakan serangan menjatuhkan lawan dengan kenaan tulang kering. Sasarannya adalah betis dengan lintasan dari luar ke dalam.

l. Besetan, adalah serangan menjatuhkan lawan dengan cara menyasar betis. Lintasannya yaitu dari luar ke dalam dan sasaran betis bagian belakang.

m. Dengkulan, adalah serangan yang menggunakan lutut atau dengkul sebagai alat penyerang. Dengkulan umumnya diarahkan ke dada atau pinggang belakang.

n. Guntingan, adalah teknik menjatuhkan lawan yang dilaksanakan dengan menjepitkan kedua tungkai kaki pada sasaran leher, pinggang, atau tungkai lawan sehingga lawan jatuh. Berdasarkan arah geraknya, ada dua jenis guntingan, yaitu guntingan luar dan gintingan dalam.

- Teknik Pertahanan dalam Pencak Silat

1. Teknik Belaan

            Belaan adalah upaya untuk menggagalkan serangan. Belaan terbagai menjadi dua, yaitu tangkisan dan hindaran. Dengan melakukan belaan, anda akan terhindar dari berbagai serangan musuh dapat mempertahankan diri. Penggunaan teknik belaan akan bergantung pada kondisi serangan yanng dihadapi.

        Pembelaan adalah prinsip utama dalam pencak silat, sehingga perlu diperkuat landasannya terlebih dahulu. Dasar-dasar hindaran/elakan dan tangkisan harus ditanamkan dan dipahami, sehingga memperkuat pembelaan aktif dan serangan balasan serta teknik-teknik lainnya. 

            Dalam pembelaan harus memperhatikan bentuk serangan lawan. Bentuk serangan yang lurus atau melingkar, jurus yang dilancarkan lawan. Bentuk serangan membela diri ada kemungkinan mendasar, mendalam atau menyudut, maksudnya menggunakan teknik bawah, serangan dari dalam atau dengan segitiga.

a. Tangkisan

Tangkisan adalah suatu teknik belaan untuk menggagalkan serangan lawan. Tindakan menahan serangan lawan dengan tangan, kaki, dan tubuh. Berikut ini adalah jenis-jenis tangkisan.

1) Tangkisan tepis menggunakan satu atau kedua telapak tangan terbuka dengan kenaan telapak tangan dalam. Arah gerakannya dari dalam ke luar dan dari atas ke bawah.

2) Tangkiasn gedik adalah tangkisan yang menggunakan satu lengan dengan yangan mengepal. Perkenaannya, yaitu lengan bawah dalam dengan lintasan dari atas ke bawah.

3) Tangisan kelit adalah tangkisan yang menggunakan satu lengan dengan telapak tangan terbuka dengan perkenaan telapak tangan luar. Arah gerakannya dari dalam ke luar atau sebaliknya.

Gambar 1
a) Tangkisan tepis, b) Tangkisan gedik, c) Tangkisan kelit

4) Tangkisan siku adalah tangkisan yang menggunakan siku, dengan lintasan dari luar ke dalam.

5) Tangkisan jepit atas menggunakan kedua lengan yang menyilang dengan kenaannya sudut persilangan lengan. Arahnya dari atas ke bawah dan sebaliknya.

6) Tangkisan jepit bawah hampir sama dengan tangkisan jepit atas, hanya saja posisi tangan mengepal dan diarahkan ke bawah.

Gambar 2
a) Tangkisan siku, b) Tangkisan jepit atas, c) Tangkisan jepit bawah
Sumber : Dokumentasi penerbit, 2009

7) Tangkisan potong menggunakan satu tangan dan lengan digerakan ke samping bawah seperti gerakan memotong. Perkenaannya adalah lengan bawah luar, dengan posisi tangan terbuka.

8) Tangkisan sangga menggunakan satu lengan yang membentuk siku-siku. Perkenaannya, yaitu lengan bawah luar dengan gerakan dari bawah ke atas dan posisi tangan mengepal.

9) Tangkisan galang adalah tangkisan yang menggunakan lengan bawah dalam yang tegak lurus. Tangan mengepal sambil digerakkan ke samping dari luar dari ke dalam dan dari dalam ke luar

Gambar 3
a) Tangkisan potong, b) Tangkisan sangga, c) Tangkisan galang
Sumber: Dokumentasi penerbit, 2009

10) Tangkisan kerupuk menggunakan kedua tangan mengepal dan lengan berbentuk siku-siku yang digerakan ke bawah. Perkenaannya adalah punggung kepala tangan.

11) Tangkisan kibas menggunakan kaki dan tungkai yang dikibaskan ke atau dari samping dengan perkenaannya telapak tangan.

12) Tangkisan lutut menggunakan gerakan lutut setinggi pinggang, dengann lintasan dari dalam ke luar.

Gambar 4
a) Tangkisan kepruk, b) Tangkisan kibas, c) Tangkisan lutut
Sumber: Dokumentasi penerbit, 2009


b. Hindaran

Adalah suatu usaha pembelaan dengan cara memindahkan bagian-bagian badan yang menjadi sasaran serangan lawan dengan melangkah atau memindahkan kaki.

Bentuk-bentuk hindaran sebagai berikut:

  1. Hindar Hadap, yaitu menghindar dengan memindahkan kaki sehingga posisi tubuh menghadap lawan.
  2. Hindar Sisi, yaitu menghindar dengan memindahkan kaki sehingga posisi tubuh menyamping lawan.
  3. Hindar angkat kaki, menghindar dengan cara angkat kaki.
  4. Hindar kaki silang, menghindar dengan memindahkan kaki secara menyilang.

c. Elakan

Adalah usaha pembelaan yang dilakukan dengan sikap kaki yang tidak berpindah tempat atau kembali ke tempat semula. Elakan terdiri dari:

1. Elakan bawah

Teknik mengelak ini dilakukan dengan cara memindahkan salah satu kaki sehingga posisi tubuh menyampingi lawan. Cara melakukan elakan bawah sebagai berikut:

a) Mengelakkan diri dari serangan pada bagian tubuh bagian atas.

b) Rendahkan posisi tubuh dengan cara melakukan lutut, tanpa memindahkan tumpuan kaki.

c) Sikap tubuh dan sikap tangan selalu waspada.

2. Elakan atas

Teknik mengelak ini dilakukan dengan cara mengelak serangan dari arah lurus atas dan samping. Cara melakukan elakan atas sebagai berikut:

a) Menghindari diri dari serangan lawan pada bagian badan sebelah bawah.

b) Mengangkat kedua kaki dengan sikap tungkai ditekuk.

c) Elakan disertai dengan sikap tubuh dan tangan yang selalu waspada.

3. Elakan samping

Karakteristik dari elakan samping sebagai berikut:

a) Menghindari diri dari serangan lurus depan, atas, dan samping.

b) Dari sikap kangkang diikuti dengan memindahkan posisi tubuh ke samping disertau geseran sikap tungkai kuda-kuda.

c) Elakan disertai dengan sikap tubuh dan tangan yang selalu waspada.

4. Elakan belakang lurus atau berputar dalam posisi kuda-kuda depan.

Karakteristik dari elakan belakang berputar sebagai berikut:

a) Mengelakkan diri dengan serangan lurus depan dan samping.

b) Memindahkan badan ke belakang dari sikap kuda-kuda depan.

c) Elakan disertai dengan sikap tubuh dan sikap tangan yang selalu waspada.

Gambar: 1) Elakan bawah, 2) Elakan atas, 3) Elakan samping, 4) Elakan berputar

d. Tangkisan

Adalah usaha pembelaan dengan cara mengadakan kontak langsung dengan serangan. Kontak langsung itu bertujuan untuk mengalihkan serangan dari lintasnnya dan membendung atau menahan serangan (jika terpaksa). Sikap kuda-kuda dan sikap tubuh dengan menggunakan satu lengan, siku, dua langkah, dan kaki.

1) Tangkisan satu lengan

a) Tangkisan luar, dari dalam keluar.

b) Tangkisan dalam. dari luar ke dalam.

c) Tangkisan atas, dari bawah ke atas.

d) Tangkisan bawah, dari atas ke bawah.

Gambar: 1) Tangkisan dalam, 2) Tangkisan luar, 3) Tangkisan atas, 4) Tangkisan bawah

2) Tangkisan siku

a) Tangkis siku dalam: siku dalam tinggi dan siku dalam rendah.

b) Tangkisan siku luar: siku luar tinggi dan siku luar rendah.

 

Gambar : Tangkisan Siku

3) Tangkisan dua lengan

a) Sejajar dua tangan/lengan atas.

b) Belah tinggi/rendah.

c) Buang samping.

d) Silang tinggi/rendah.

Gambar : Tangkisan Dua Lengan

4) Tangkisan kaki

a) Tangkisan kaki tutup samping

b) Tangkisan kaki tutup depan.

c) Tangkisan kaki tutup buang luar.

d) Tangkisan kaki busur/dalam.

3. Teknik Pembelaan (Lanjutan)

Pembelaan lanjutan merupakan teknik pencak silat yang mempunyai unsur lebih sulit dari elakan dan tangisan. Pembelaan lanjutan dapat diawali dengan elakan atau tangkisan, yang kadang-kadang memerlukan gerak pendahuluan atau gerakan berangkai. Pembelaan lanjutan terdiri atas: (1) tangkapan, (2) jatuhan, (3) lepasan, dan (4) kuncian.

Keempat teknik lanjutan tersebut akan diuraikan satu persatu sebagai berikut:

a. Teknik Tangkapan

Adalah suatu usaha pembelaan dengan cara menahan lengan/tungkai lawan untuk menjaga serangan berikutnya. Tangkapan merupakan unsur dari teknik jatuhan atau kuncian. Tangkapan dapat dilakukan dengan satu atau dua lengan.

1) Teknik tangkapan satu lengan, terdiri atas:

a) tangkapan dengan tangan

b) tangkapan dengan lengan

c) tangkapan dengan ketiak/kempit

Gambar: Teknik Tangkapan Satu Lengan

2) Teknik tangkapan dua lengan, terdiri atas:

a) Teknik tangkapan tangan rapat searah

b) Teknik tangkapan rapat berlawanan

c) Teknik tangkapan renggang searah

Gambar: Teknik Tangkapan Dua Lengan

b. Teknik Jatuhan

Adalah usaha menjatuhkan lawan secara langsung atau sebagai tindak lanjut dari tangkapan. Jatuhan dapat dilaksanakan dengan cara:

1) Menambah tenaga serangan lawan searah dengan:

a) Teknik jatuhan dengan tarikan

b) Teknik jatuhan dengan dorongan

Gambar: Menambah tenaga serangan lawan searah dengan teknik jatuhan dengan dorongan.

2) Mengubah arah serangan lawan dengan:

a) Tarikan

b) Dorongan

c) Putaran

Gambar: Teknik Jatuhan dengan Merubah Arah Serangan Lawan dengan Tarikan.

3) Memindahkan tumpuan badan lawan dengan:

  a) Sapuan, meliputi:

(1) Sapuan tegak

(2) Sapuan rebahan 

Gambar: Teknik Sapuan

  b) Kaitan, meliputi:

(1) Kaitan luar

(2) Kaitan belakang 

 

Gambar: Kaitan

  c) Angkatan, meliputi:

(1) Angkatan dalam

(2) Angkatan belakang  

   d) Ungkitan 


c. Teknik Lepasan

Adalah usaha untuk melepaskan diri dari tangkapan lawan, dilakukan dengan cara:

1) Teknik lepasan dengan satu tangan, terdiri atas:

a) Putaran

b) Sentakan

c) Serangan

d) Tangkapan balasan

2) Teknik lepasan dengan dua tangan, terdiri atas:

a) Balasan

b) Serangan

c) Bantuan

3) Teknik lepasan dengan kaki

4) Teknik lepasan dengan dua kaki


d. Teknik Kuncian

Adalah usaha menguasai lawan dengan tangkapan sempurna berdaya. Kuncian bertujuan untuk:

1) Menahan kemungkinan gerakan lawan

2) Mematikan gerak sendi dengan lipatan


4. Teknik Dasar Hambatan

Adalah suatu usaha pencegahan terhadap serangan lawan. Teknik ini dapat dilakukan dengan cara: (1) mendahului gerak lawab, dan (2) menghambat/menghentikan gerak lawan.

CARA MELAKUKANNYA:

a. Kedua pesilat A dan B sikap pasanga dalam jangkauan serang.

b. Ketika B akan memukul, A mendahului dengan reaksi tangan ke depan.

c. Sebelum pukulan B keluar, A telah mendahului menghambat degan tangan.

 

5. Teknik Dasar Sambutan

Adalah  usaha pembelaan yang langsung disusul dengan serangan. Sambut bertujuan untuk mencegah serangan berangkai atau menghentikan perlawanan lawan. Teknik hambatan dapat dilakukan dengan: (1) serangan balasan, dan (2) menguasi lawan dengan tangkapan, jatuhan, dan kuncian.

Teknik sambut dapat dilakukan balasan disusul dengan:

a. Serangan tangan (pukulan)

b. Serangan kaki (tendangan)

c. Teknik menjatuhkan

d. Teknik kuncian


6. Teknik Dasar Penguasaan

Adalah usaha mendapatkan posisi menguntungkan, sehingga dapat menguasi gerak lawan. Penguasaan dapat dilakukan dengan menguasi medan dan menghambat gerak lawan. Untuk menghambat gerak lawan dapat dilakukan dengan cara mempersempit ruang gerak, merapat, menggoyahkan keseimbangan badan, dan mempersulit bidan tumpuan (kuda-kuda).

CARA MELAKUKANNYA:

a. A dan B berhadapan dengan sikap pasang.

b. A melakukan taktik dengan beralih pasang ke serong depan.

c. Jika B tidak segera mengubah sikap pasangnya, A mempunyai keunggulan posisi.

d. A dapat melakukan gerakan teknik merapat, menempel, menggoyahkan keseimbangan, atau mempersempit bidang tumpuan, sehingga dapat melakukan serangan dengan lebih baik.

e. Memancing keluarnya tendangan lawan, kemudian disambut dengan teknik menjatuhkan.

G. Peraturan dalam Pencak Silat

1. Aturan dasar pertandingan

Ada beberapa aturan paling dasar dalam pertandingan pencak silat, diantaranya:

a. Dua atlet silat harus melakukan serangan (tangan dan kaki), pembelaan (hindaran, tangkisan, dan elakan), menjatuhkan lawan, dan mengunci lawan.

b. Setiap atlet harus melakukan serangan berpola. Mulai dari sikap awal, pasangan, dan koordinasi gerakan.

c. Pertandingan pencak silat dilakukan dalam tiga babak. Setiap babak berdurasi dua menit dan di antara setiap babak ada istirahat satu menit.

2. Perhitungan Skor

Pertandingan pencak silat menggunakan sistem skor untuk menentukan pemenangnya. Berikut peraturan pencak silat tentang perhitungan skor:

a. Skor 1 jika tangkisan atau elakan berhasil dan disusul pukulan yang berhasil masuk ke area tubuh lawan. Skor 1 juga berlaku jika teknik jatuhan berhasil.

b. Skor 2 jika serangan kaki berhasil terkena lawan.

c. Skor 3 jika berhasil menjatuhkan lawan.

d. Skor 4 jika berhasil mengunci lawan.

3. Serangan ke Lawan

Serangan kepada sasaran dalam pencak silat juga harus diperhatikan. Sasaan yang sah dan bernilai disebut "Togok", yaitu bagian tubuh kecuali leher ke atas dan area kemaluan. Sasaran yang diperbolehkan dalam pencak silat di antaranya dada, perut (pusar ke atas), rusuk kiri dan kanan, punggung atau badan belakang.

Bisa baca lebih lengkapnya di peraturan dalam pencak silat

Komentar